Selamat Datang di Website blogger Jhon Demos Silalahi
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

5 Feb 2013

LIPI Prihatin, Indonesia Kaya SDA Miskin Teknologi

LIPI menggelar kompetisi ilmiah untuk bangkitkan budaya meneliti. 

LIPI rangsang budaya meneliti bagi remaja dan pengajar
LIPI rangsang budaya meneliti bagi remaja dan pengajar

Budaya meneliti untuk menghasilkan inovasi yang berguna bagi bangsa perlu terus digalakkan. Tak hanya untuk menjawab permasalahan yang dihadapi, juga agar Indonesia lepas dari ancaman kekurangan ilmuwan.

Untuk merangsang munculnya inovator muda, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 25-26 September 2012.

Kompetisi ini terdiri dari serangkaian lomba, di antaranya Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-44, Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) ke-20, Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-11 dan National Young Inventor Award (NYIA) ke-5.

Menurut Kepala LIPI, Lukman Hakim, serangkaian kompetisi ilmiah ini diselenggarakan sebagai upaya membangkitkan budaya meneliti bagi kalangan remaja dan para pengajar. "Negara-negara yang maju di bidang iptek, pembinaan penelitiannya dilaksanakan sedari dini dengan afiliasi melalui institusi penelitian dan pendidikan formal," kata Lukman Hakim.

Ia menambahkan, kompetisi ilmiah ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan kesadaran penelitian bagi guru dan generasi muda terhadap iptek, sehingga implementasi iptek ini diharapkan bisa menjadi solusi teknologi di masa depan.

"Indonesia ada calon negara dengan perekonomian yang kuat di tahun 2025. Namun, kedudukan Indonesia di masa depan, kita patut prihatin. Banyaknya sumber daya alam tapi tidak dimanfaatkan menjadi teknologi yang baik. Teknologi adalah tolak ukur kemajuan suatu negara," tambah Lukman Hakim.

Kepala Bagian Peningkatan Kemampuan Ilmiah Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Yusuar mengatakan ada 93 karya ilmiah yang menjadi finalis 4 kompetisi tersebut. "Nantinya semua finalis dari kompetisi ilmiah ini akan mempresentasikan karyanya di depan dewan juri," kata Yusuar.

LIPI juga terus berupaya agar karya-karya ilmiah ini tidak berhenti di sini, tapi para finalis lomba ini akan mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karya-karyanya di luar negeri.

"Kami berkerjasama dengan Intel Indonesia untuk memberangkatkan para finalis ini untuk berkompetisi di luar negeri. Namun, ada penilaian tersendiri untuk mengirimnya ke luar negeri, karena persyaratannya cukup sulit. Biasanya yang dikirim 3 tim, ada perorangan dan grup," tambah Yusuar.

Selamatkan Ragam Hayati, LIPI Gandeng Agen AS

Para peneliti kerap terbentur soal pendanaan dari pemerintah. 

Ilustrasi: Pesona bawah laut Raja Ampat

Indonesia merupakan negeri dengan kekayaan biodiversitas alias keanekaragaman hayati yang besar. Namun, ancaman kepunahan biodiversitas terus menghantui negeri ini.

Keanekaragaman hayati dengan ekosistem yang unik perlu mendapat perhatian dan penyelamatan dengan memanfaatkan dengan baik. Ini menjadi tantangan bagi semua pihak untuk segera diselesaikan dengan tepat. Untuk itu, LIPI menilai perlunya kerja sama dengan pihak lain agar upaya penyelamatan ini terlaksana dengan baik.
Kerja sama penelitian antara LIPI dan National Science Foundation (NSF) asal Amerika Serikat diharapkan mampu memberikan manfaat teknologi biodiversitas untuk mengungkap kekayaan genetik dari keanekaragaman hayati di Indonesia.

NSF adalah agensi pemerintahan Amerika Serikat yang menyokong pendidikan dan penelitian fundamental di semua bidang ilmu nonmedis, yaitu sains dan teknik.

"Posisi Indonesia sangat strategis dalam hal biodiversiti, sehingga banyak pihak luar negeri yang tertarik," kata Lukman Hakim, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat ditemui di acara Workshop LIPI and NSF on Biodiversity, di Gedung Botani Mikrobiologi Puslit Biologi, Cibinong Science Center, Bogor, 4 Februari 2013.

"Menindaklanjuti itu, kami harus membicarakan mekanisme kerja sama yang akan dilakukan," tandasnya.

Lukman menambahkan, para peneliti kerap terbentur soal pendanaan pemerintah. Anggaran penelitian masih sangat kecil. Dia menargetkan, satu persen dari total PDB untuk dibelanjakan sebagai riset, sampai sekarang masih belum terpenuhi.

"Diskusi dengan Amerika Serikat adalah untuk menyelamatkan aset-aset Indonesia, seperti laboraturium nusantara, biodiversiti, dan lain-lain," tutur Lukman. "Mereka punya uang. Meski begitu, kami tetap harus punya hitung-hitungan dalam kerja sama ini," jelasnya.

Senada dengan Lukman, Kepala Pusat Penelitian (P2) Bioteknologi LIPI Witjaksono mengatakan, kerja sama antara LIPI dan NSF adalah untuk membangun kerangka kerja yang nyata untuk penelitian di masa mendatang.

"Arah kerjasama ini adalah membantu meningkatkan mutu penelitian dan kapasitas individu peneliti antar kedua pihak," ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa biodiversiti itu sejatinya merupakan keragaman genetik yang ada di alam. "Saat ini, Indonesia memerlukan bantuan teknologi dalam upaya mengungkap kekayaan genetik, terutama teknologi genomik untuk mempelajari keanekaragaman gen bagi perbaikan tanaman untuk tujuan industri," ujarnya.

Di Indonesia, sudah banyak kerja sama yang bersifat equal partnership atau kesetaraan, dan Indonesia tidak bisa lagi dianggap sebagai negara miskin.
"Sekarang di dunia internasional, Indonesia dikenal sebagai negara kelas menengah yang memiliki kemampuan dan layak diperhitungkan," kata Lukman.

31 Jan 2013

Berang Wildan Ditangkap, Anonymous Retas Situs Pemerintah

Tak tanggung-tanggung, sang peretas melumpuhkan tujuh situs sekaligus.

Pesan hacker Anonymous melalui akun Twitter

Polri baru saja menangkap peretas situs Presiden SBY. Melalui Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri, pemuda berusia 22 tahun bernama Wildan Yani S Hari diringkus tanpa perlawanan.

Sebagai aksi protes, komunitas peretas Internasional Anonymous pun melakukan defacing, atau mengubah tampilan dan isi Web, dan meninggalkan pesan peringatan. Tujuh situs milik pemerintah pun berhasil dilumpuhkan, meliputi situs KPPU, BPS, KBRI Tashkent, Kemenhuk dan HAM, Kemensos, dan Kemenparekraf.

Berlangsung sejak tadi malam hingga Rabu dini hari, di dalam ketujuh situs pemerintah tersebut memajang pesan dari Anonymous: "No Army Can Stop An Idea...."

Pesan tersebut ditujukan pada pemerintah sebagai aksi protes terhadap penangkapan Wildan.

Mendapat dukungan di Twitter
Meski semua situs yang menjadi korban Anonymous telah pulih, dan tampilannya kembali seperti semula, gerakan di media sosial Twitter terus berlanjut.

Menggunakan hashtag #OpFreeWildan, tweet yang memberi dukungan pada Wildan terus bertambah. Sebagian besar tweeps pun menuangkan uneg-unegnya dalam mikroblog itu.

"Seharusnya Pemerintah berterimakasih kepada dia, karna dia tau kelemahan dari situs tersebut #OpFreeWildan" ujar seorang dengan akun Twitter @MJalfarisi09.

"Government of Indonesia, you cannot arrest an idea NO ARMY CAN STOP US #Anonymous #OpFreeWildan #FreeAnon" tulis seorang melalui akun Twitter lain, @An0nPun1shm3nt.

Ini Spesifikasi Pesawat Mata-mata Militer RI

BPPT mengembangkan 2 pesawat tanpa awak: Alap-alap dan Sriti. 

Model pesawat Tanpa Awak (UAV) jenis Alap-Alap Double Boom

Bentuk pesawatnya kecil, ramping, bentang sayapnya kurang dari 4 meter, juga tak berawak. Namun, pesawat ini mempunyai peranan besar bagi pertahanan Indonesia, untuk melakukan misi pengintaian.

Indonesia sebentar lagi mempunyai pesawat pengintai tanpa awak (unmanned aerial vehicle) yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Saat ini sudah BPPT sudah membuat lima buah pesawat tanpa awak. Tiga merupakan pesawat tanpa awak untuk survei pengamatan wilayah, sedangkan dua jenis lainnya pesawat tanpa awak untuk pengintaian.

Pesawat tanpa awak ini didesain dengan konsep autopilot dan autonomous. Pesawat ini secara bergerak otomatis melalui kendali Ground Control System (GCS) dan jalur yang dilalui oleh pesawat juga terkendali.

"Jadi ini terkendali, pesawat nggak bisa kemana-mana, sesuai dengan kendali program di GCS," jelas Agus Suprianto,  staff engineering Unit Kerja Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan Kedeputian Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT di Jakarta, Rabu 12 September 2012.

Varian pesawat tanpa awak yang dikembangkan BPPT yaitu Alap-Alap Double Boom dan Sriti. Keduanya secara fisik lebih kecil dibandingkan pesawat tanpa awak untuk kepentingan survei pemetaan dan kemampuan tinggi terbang maksimumnya juga lebih rendah dari pesawat survei pengamatan.

"Pesawat pengintai mampu terbang 7.000 kaki, agar lebih jelas dalam meningkatkan performa fokus pengintaian pembajakan ilegal logging, pembajakan kapal, jadi lebih ke teknologi pertahanan," tambah Agus.

Untuk memotret obyek pengintaian, pesawat khusus ini dilengkapi dengan Gymbal camera video buatan Sony. Kamera ini beratnya mencapai 9 kg dan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan kamera biasa maupun kamera profesional.

Ia melanjutkan, pesawat melakukan pengintaian selepas proses climbing di udara. "Jadi tahapannya, setelah take off, kan climbing, nah setelah itu pesawat baru bisa merekam obyek pengintaian," paparnya.

Lantas bagaimana dengan pengiriman data pengintaian? Pesawat ini sudah dilengkapi dengan sensor yang langsung terhubung dengan GCS di daratan. Data bersifat real time, dapat langsung diolah di pusat kendali. "Ini merupakan generasi perintis, generasi awal pesawat tanpa awak di Indonesia," ujarnya.
Pesawat khusus ini akan dipakai oleh Kementerian Pertahanan dan TNI.
"Pengintaian akan dilakukan di TNI AL, dari kapal. Ini masih disesuaikan, semakin kecil semakin lincah," kata Agus.
BPPT dan Kemenhan akan melakukan ujicoba pesawat pada bulan ini di Halim Perdanakusuma.

Spesifikasi Alap-Alap Double Boom
Bentang Sayap : 3,510 m
Konfigurasi: inverted v-tail high wibng dan double boom
Berat kosong: 8,5 Kg
Berat payload: 2,5 Kg
Berat maksimum take off, MTOW : 18 Kg
Kecepatan jelajah : 55 Knots
Lama terbang : 5 Km
Jangkauan terbang : 140 Km
Tinggi terbang maksimum: 7.000 kaki

Spesifikasi Sriti
Bentang Sayap : 2,988 m
Konfigurasi: flying wing
Berat kosong: 6 Kg
Berat payload: 2 Kg
Berat Maksimum Take Off, MTOW : 8,5 Kg
Kecepatan jelajah : 30 Knots
Lama terbang : 1 jam
Jangkauan terbang : 5 Nautical mile
Tinggi terbang maksimum: 3.000 kaki

Jokowi Sumringah Rekayasa Hujan Berhasil

"Sudah lihat kan, tanggal 27 hujan gede ndak," kata Jokowi, retoris.

 Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo

Gubernur DKi Jakarta, Joko Widodo, senang karena rekayasa hujan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC) berhasil dengan gemilang. Buktinya, intensitas hujan rendah setelah upaya itu dilakukan.

"Ya ini kamu lihat saja hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, gimana cuacanya, hujan ndak? Lihat saja sendiri buktinya," ujar Jokowi di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 30 Januari 2013.

Rekayasa itu dilakukan untuk mengurangi curah hujan yang mengguyur Jakarta agar potensi banjir bisa diminimalisasi. Jokowi menganggap BPPT telah berhasil menyiasati cuaca yang berdasar prediksi bakal terjadi puncak hujan tertinggi pada 27 Januari 2013.

"Sudah lihat kan, tanggal 27 itu hujan gede ndak? Tidak kan. Itu kan tandanya proses itu berhasil," katanya.

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT, Tri Handoko Set, mengatakan rekayasa yang dilakukan selama lima hari terakhir berjalan lancar dan cukup baik.

"Sistem pertumbuhan awan lima hari lalu cocok sekali dengan kegiatan TMC, bisa mengurangi curah hujan dengan maksimal," ujar Tri pada VIVAnews di Jakarta, Rabu 30 Januari 2013.

Selama percobaan TMC, dia menjelaskan, pertumbuhan gumpalan awan terjadi sejak pagi hari dari wilayah barat yaitu Selat Sunda. Dengan TMC, awan tersebut dihujankan sebelum sampai Jakarta. "Gumpalan awan itu dihujankan (dibuat hujan) dari wilayah Pandeglang dan sekitar perbatasan laut di sekitar situ," jelasnya.

Pagi tadi, BPPT sudah melakukan aktivitas rekayasa hujan menggunakan alat darat. Tri Handoko berharap ke depannya, TMC bisa maksimal seperti lima hari yang lalu.

Berhasil, Rekayasa Kurangi Curah Hujan di Jakarta

Rekayasa dilakukan lima hari terakhir untuk kurangi potensi banjir.

Rekayasa memodifikasi hujan telah dilakukan lima hari terakhir untuk kurangi potensi banjir.

Sepanjang lima hari terakhir, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), telah berhasl memodifikasi hujan di sekitar DKI Jakarta melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Rekayasa hujan ini bertujuan mengurangi curah hujan yang mengguyur Ibukota sehingga meminimalisir potensi bencana banjir.
Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT, Tri Handoko Set, mengatakan, rekayasa yang dilakukan selama lima hari terakhir berjalan lancar dan cukup baik.

"Sistem pertumbuhan awan lima hari lalu cocok sekali dengan kegiatan TMC, bisa mengurangi curah hujan dengan maksimal," ujar Tri pada VIVAnews di Jakarta, Rabu 30 Januari 2013.

Selama percobaan TMC, dia menjelaskan, pertumbuhan gumpalan awan terjadi sejak pagi hari dari wilayah barat yaitu Selat Sunda. Dengan TMC, awan tersebut dihujankan sebelum sampai Jakarta. "Gumpalan awan itu dihujankan (dibuat hujan) dari wilayah Pandeglang dan sekitar perbatasan laut di sekitar situ," jelasnya.

Pagi tadi, BPPT sudah melakukan aktivitas rekayasa hujan menggunakan alat darat. Tri Handoko berharap ke depannya, TMC bisa maksimal seperti lima hari yang lalu.

Pengembangan TMC
Meski rekayasa hujan melalui TMC sudah cukup baik, Tri Handoko mengatakan akan terus mengembangkan teknologi tersebut, agar rekayasa hujan bisa dilakukan setiap waktu.

Sebagaimana diketahui, TMC saat ini hanya digunakan pada siang sampai sore hari. Di malam hari, TMC tidak dapat digunakan. "Malam hari pesawat tidak memungkinkan melihat awan," ujarnya.

Untuk itu, BPPT memaksimalkan rekayasa pertumbuhan awan jelang sore hari dan menganalisa apakah pertumbuhan awan pada waktu ini berbahaya atau tidak. "Jika berbahaya, kami segera operasikan peralatan darat," tambahnya.

Mengingat curah hujan diprediksi masih tinggi hingga Maret mendatang, ke depannya BPPT menyiapkan alternatif teknologi rekayasa hujan, agar bisa berfungsi sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari.

BPPT berencana mengoperasikan pesawat nirawak serta roket untuk menyemai awan-awan di langit. "Kami menggunakan radar. Begitu radar melihat gumpalan awan, kami akan luncurkan roket ke awan," katanya.

Pengoperasian pesawat nirawak sampai saat ini belum bisa dioperasikan karena penerapan TMC sendiri masih dikaji.

29 Jan 2013

AS dan Eropa Terbangkan Pesawat ke Bulan

Misi ini sendiri ditargetkan terlaksana pada tahun 2017.

Ilustrasi: Pesawat Endeavour

Misi eksplorasi ruang angkasa tak henti-hentinya dilakukan oleh negara maju. Opsi kerja sama antar lembaga antariksa pun ditempuh demi menuntaskan ambisi eksplorasi ruang antariksa.

Belum lama ini, badan antariksa Amerika Serikat (NASA) dan Eropa (ESA) telah bekerja sama untuk mengirimkan astronot ke ruang angkasa. Bentuk kerja sama ini meliputi pemasangan modul kargo milik ESA dengan kapsul ruang angkasa Orion bikinan NASA.

Perjanjian baru tersebut mencakup rencana misi pertama Orion, yaitu membawa pesawat ruang angkasa tak berawak terbang mengorbiti Bulan. Misi ini sendiri ditargetkan terlaksana pada tahun 2017.

NASA mempunyai tujuan lain dari kapsul Orion. Badan antariksa milik AS ini berharap Orion akan membawa manusia melampaui orbit rendah Bumi suatu hari nanti.

Selanjutnya, kapsul tersebut bisa terbang hingga ke asteroid dan Mars. Sebagai catatan, manusia yang terakhir kali menyentuh orbit rendah bumi, yaitu Eugene Cernan pada tahun 1972 silam.

Meski pembangunan Orion telah dimulai, NASA mengaku butuh bantuan internasional untuk mewujudkan misi tersebut.

"Hari ini, apa yang Anda lihat adalah langkah pertama untuk menjalankan misi itu," kata William Gerstenmaier, wakil Direktur NASA untuk eksplorasi berawak, seperti dilansir Moondaily, 28 Januari 2013.

"Eksplorasi ruang angkasa sudah seharusnya menjadi upaya internasional," tegasnya.

Amerika Serikat, Eropa, serta lembaga antariksa lainnya sudah bekerja sama secara ekstensif di Stasiun Luar Angkasa Internasional, sedangkan misi ambisius lebih jauh tentang ruang angkasa tetap urusan nasional masing-masing negara.

Namun demikian, upaya eksplorasi lebih jauh sering terkendala oleh biaya. Menurut laporan US National Academy of Sciences, anggaran NASA sebesar US$18 juta per tahun bahkan belum termasuk semua misi. Untuk itu pilihannya adalah bermitra dengan lembaga antariksa internasional.

Modul transfer otomatis
Modul besutan lembaga antariksa Eropa, disebut kendaraan transfer otomatis, atau Automated Transfer Vehicle (ATV). Modul ini telah dipasok di Stasiun Luar Angkasa Internasional sejak tahun 2008.

ATV dimodifikasi akan terhubung langsung di bawah kapsul berawak Orion untuk memberikan propulsi, daya, kontrol termal, serta memasok air dan gas pada awak astronot.

Gerstenmaier menjelaskan, penggunaan modul Eropa bukan untuk menghemat biaya NASA. Namun, memungkinkan NASA untuk menggabungkan desain pra-uji coba, tanpa melalui waktu dan upaya pengujian sistem baru sendiri.

Sementara badan antariksa Eropa (ESA) menyebut kerja sama ini membuka perpektif baru eksplorasi ruang angkasa.

"Keputusan NASA untuk bekerja sama dengan ESA memberikan elemen penting untuk misi, yaitu sebuah sinyal kuat kepercayaan dan keyakinan atas kemampuan ESA," tambah Thomas Reiter, direktur pesawat ruang angkasa manusia ESA dalam sebuah pernyataan resmi.

22 Jan 2013

Perang Dunia III dan Peluang Indonesia

Memanasnya suhu politik global akibat friksi antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu melawan Iran beserta koalisinya, sekurang-kurangnya telah memunculkan prakiraan berbagai pihak tentang keniscayaan meletusnya Perang Dunia di abad XXI ini.


Adalah Prof Michel Chossudovsky, pendiri sekaligus Direktur Central for Research on Globalization (CRG) di Kanada dan Finian Cunningham, salah satu peneliti CRG telah mengingatkan: “ .. jika kelak perang nuklir diluncurkan, seluruh Timur Tengah/Asia Tengah akan masuk ke dalam suatu kebakaran besar!” ( The Globalizaton of War: The “Military Roadmap” to World War III, www.globalresearch.ca). Dalam artikel di atas setidaknya mulai diungkap, bahwa potensi PD III telah disebut-disebut sebagaimana tulisan Cossudovsky.
Selanjutnya Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem memperingatkan serangan militer ke Iran akan membakar seluruh Timur Tengah. AS mengetahui bahwa perang terhadap Iran akan membakar seluruh kawasan tanpa mengenal batas (Reuters, 29/02 /2012). "Israel bisa memulai perang, tetapi tidak tahu skala konsekuensi dan tidak mampu mengendalikan perang tersebut", katanya.
Tak ketinggalan Raja Yordania, Abdullah II juga memperingatkan Israel dan Barat terhadap konsekuensi agresi militer atas Iran. "Setiap tindakan militer terhadap Iran akan memperburuk ketidakstabilan di Timur Tengah, dan berakibat sangat negatif bagi AS, Eropa, dan Israel”, katanya kepada majalah Turkish Policy Quarterly (GFI, 05/03/2012).
Dan tampaknya, isue nuklir menjadi TEMA POKOK dari propaganda yang digencarkan oleh AS dan Barat ---seperti biasa--- dalam rangka pembenaran setiap “tindakan” setelah tema-tema kolonialisme sebelumnya seperti korupsi, pemimpin tirani, tidak demokratis dan lainnya melalui Arab Spring  memetik sukses di Tunisia, Mesir dan Yaman tetapi ternyata tidak berhasil menggoyang Syria dan Iran. Gagal di kedua negara melalui gerakan massa non kekerasan (smart power), terlihat polanya ditingkatkan tema pun berubah. Syria merupakan contoh atas peningkatan pola Barat dari gerakan massa menjadi “perang sipil” alias pemberontakan bersenjata. Istilahnya hard power dalam skala terbatas. Dan program nuklir (sipil) Iran pun menjadi sasaran dari pergantian tema kolonialisme. Ya, nuklir Iran kini dihebohkan sebagai ancaman bagi perdamaian dunia!
Menarik sekali tatkala analis politik AS sekaliber Noam Chomsky malah bertolak-belakang dengan arus politik negaranya. Ia menyatakan bahwa dunia tidak menerima penggambaran AS terhadap Iran sebagai ancaman bagi perdamaian global. Menurutnya, dunia justru memandang Washington dan Tel Aviv sebagai kejahatan yang lebih besar. Mayoritas warga AS mengakui hak Iran untuk program energi nuklirnya, sebelum media massa dan Washington meluncurkan propaganda besar-besaran kepada Republik Islam selama dua tahun terakhir. "Negara-negara kuat saat ini seperti Rusia, Cina, India, dan 120 negara anggota Gerakan Non-Blok juga menentang kebijakan AS terhadap Iran," kata Chomsky (GFI, 05/02/2012).
Bahkan Presiden Rusia yang baru terpilih Vladimir Putin Selasa (06/03) mengakui hak Iran untuk memiliki program nuklir nasional. Dalam wawancara video dengan harian bisnis Jerman Handelsblatt, Putin mengatakan bahwa Iran memiliki hak untuk melanjutkan program nuklirnya di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional yang bermarkas di Wina, lapor IRNA.
Agaknya AS dan sekutu tidak peduli. Ia jalan terus mengikuti Desain Militer Global dalam “Penaklukan Dunia” yang mulai dari Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan, yang telah terpampang di Pentagon semenjak tahun 1990-an (Michel Cossudovsky, Agustus 2010, www.globalresearch.ca). Apa boleh buat. Layar telah dikembangkan, program sudah dijalankan dan waktu pun tidak bisa diputar ulang!

Sekilas Urgensi Kawasan dan Pindahnya Lokasi PD
Dalam buku The Geopolitics of Superpower (1973) karya Colin S. Gray, seorang Alford Machinder (abad ke 19) sudah memberi isyarat bahwa Asia Tengah dan Timur Tengah merupakan Kawasan Heartland atau World Island. Maknanya siapa menguasai Heartland yang memiliki kandungan sumberdaya alam dan aneka mineral, maka akan menuju “Global Imperium”. Itulah sekilas latar urgensi kawasan tersebut bagi dinamika politik dan kancah hegemoni global. Pantaslah jika sering terjadi konflik baik sifatnya intra maupun interstate berputar-putar di sekitar “kawasan basah” tersebut. The power of oil.
Tatkala berkembang isue perpindahan lokasi PD dari Selat Hormuz ke Laut Cina Selatan, ini sempat mengundang pro-kontra banyak kalangan bahkan para pakar itu sendiri, mengingat penilaian secara fisik baik persiapan maupun penyiapan infrastruktur perang oleh masing-masing pihak yang berseteru di sekitar Heartland telah mencerminkan level: siap perang!
Namun fakta memperlihatkan, Admiral Robert F. Willard, Komandan Angkatan Laut AS di kawasan Samudera Pasifik mengeluarkan pernyataan dan menekankan komitmen akan kehadiran militer AS di Laut Cina, sedang pada sisi sisi para politikus Cina menyatakan kawasan ini sebagai GARIS MERAH kebijakan Cina dan Beijing yang tidak dapat menerima kehadiran pasukan asing, bahkan pasukan negara-negara tetangga di kawasan ini.
Berbeda dengan Cina, tampaknya para pejabat AS tetap menggelar latihan militer bersama dengan negara-negara kawasan, bahkan akan membantu perusahaan-perusahaan Philipina dan Vietnam dalam proses eksplorasi dan eksploitasi minyak di laut ini (GFI, 02-03-2012). Beberapa sumber menyatakan ---setidaknya menurut Dirgo D. Purbo, pakar perminyakan Indonesia---  bahwa Laut Cina Selatan selain merupakan New Road Silk melalui perairan, juga kawasan ini memiliki kandungan sumberdaya alam dan kaya akan mineral.
Aksi AS jelas mengobarkan kemarahan Cina. Inilah kemungkinan sebagai salah satu pemicu bergesernya proxy war (lapangan tempur) dari dugaan sebelumnya di Hormuz. Dan Cina pun siap-siap serta berencana menaikkan budget militernya sebesar 11,2% di tahun 2012 ini (GFI, 06-03-2012). Kenaikan anggaran ini disinyalir menjawab “keberanian” negara-negara di sekelilingnya terkait klaim wilayah dan sengketa kepulauan, sekaligus sebagai tanggapan atas keputusan AS yang mengumumkan kawasan Asia-Pasifik sebagai poros strategis.

Teori Pembedah
“Matikan Timur Tengah, anda mematikan Cina dan Rusia, maka anda akan menguasai dunia” (Tony Cartalucci). Menafsirkan asumsi peneliti dari CRG, Kanada tersebut intinya: barang siapa ingin menguasai dunia maka langkah pertama harus menguasai dahulu Timur Tengah, automaticly mengakibatkan “mati”-nya Cina dan Rusia (langkah kedua), serta hasilnya adalah “menguasai dunia”. Itulah benang merah. Seberapa besar ketergantungan Cina dan Rusia terhadap Timur Tengah sampai harus “mati” apabila Timur Tengah dikuasi orang lain ---seperti tersirat dalam teori tadi--- tak dijelaskan oleh Cartaluci dan tidak pula dibahas dalam catatan ini.
Dengan demikian, isue bergesernya PD III dari Hormuz ke Laut Cina Selatan, sejatinya masih dalam koridor asumsi tadi. Sederhana saja, apabila kelak berpindah lokasi dari Hormuz menuju Laut Cina Selatan maka boleh diterka, bahwa AS dan sekutu tengah menerapkan langkah kedua (mematikan Cina dan Rusia) secara langsung, tanpa harus melewati langkah pertama (matikan Timur Tengah) dahulu. Logika Cartalucci, dengan “mematikan” Cina dan Rusia justru akan melancarkan roadmap militernya yang selama ini terkendala oleh kedua adidaya (Cina dan Rusia) baik di lapangan, forum diplomasi dan terutama veto di Majelis PBB. Namun apakah memang harus demikian?

Untung dan Rugi
Secara cermat bisa diurai untung-ruginya. Jika PD III meletus di Laut Cina Selatan antara AS dan sekutu versus Cina dan Jepang misalnya, kemungkinan besar Rusia cenderung "netral dan menunggu". Tak banyak hal signifikan bagi Beruang Merah di Laut Cina. Di satu sisi, sikap ini menguntungkan AS dan sekutu. Artinya pertempuran di Laut Cina selain bakal melibatkan belasan negara Common Wealth dan Korea Selatan sebagai bemper (proxy), sekaligus AS dapat menerapkan modus barunya dalam perang kolonial yakni “utang dibayar bom” (baca: Perampok Internasional dan Utang Dibayar Bom di www.theglobal-review.com). Dalam perspektif militer, meskipun secara kuantitas personel dan kualitas peralatan militernya cukup besar setelah Rusia, semenjak pasca PD II Cina dianggap kurang berpengalaman dalam perang modern terutama di perairan.
Berdasarkan kutipan data CNBC, Kamis (2/2/2012), total utang AS sekarang mencapai 15 triliun USD dan dipastikan terus meningkat. Kendati sebagian besar utangnya dipegang oleh swasta dan entitas publik, bahwa ada dua “negara asing” yang juga menguasai yakni Cina dan Jepang. Ya. Cina menguasai surat utang sebesar 1,107 triliun USD, meskipun September 2011 turun dibandingkan per Juli 2011 sebesar 1,173 triliun USD. Sedangkan Jepang selain merupakan partner dagang terbesar, menguasai juga surat utang AS hingga mencapai 1,038 triliun USD (Detik.com, 02/02/2012, 08:35:56, Ini Dia Pemberi Utang Terbesar AS).
Melihat data-data di atas, menjadi wajar jika AS ingin mengulang lagi modus “utang dibayar bom” kepada Cina dan Jepang seperti yang ia lakukan terhadap Libya dulu, disamping awal 2012-an lalu kedua negara berani memprakarsai gerakan menolak dolar AS di setiap transaksi perdagangan, kemudian gerakan itu diikuti oleh Rusia, Iran dan lainnya. Inilah yang dicemaskan AS. Sikap dan gerakan “menolak dolar” dapat menimbulkan snawball process di berbagai belahan dunia. Dolar bisa pulang ke negeri asalnya menjadi tumpukan kertas-kertas tak berharga. Itulah “tsunami dolar” yang ditakuti para elit AS!
Bagi AS sendiri, meletuskan PD di Laut Cina Selatan bukannya tanpa pertimbangan jitu, keuntungan pokok adalah tidak berhadap-hadapan secara langsung dengan Cina dan Rusia sekaligus. Itu yang utama, mengingat kekuatan militer kedua adidaya baru tadi dalam segala hal hampir menyamainya. Ia bisa lebur menjadi abu. Namun pada sisi lain, kondisi seperti ini justru diharapkan oleh Rusia. Kenapa? Tersirat sebuah peluang. Ibarat menembak di atas kuda, sangat mustahil bila usai peperangan terdapat "dua matahari" berdampingan. Maka di tengah-tengah “kelelahan” para negara yang terlibat perang, Rusia pun bakal (menelikung) sendirian melenggang ke puncak kekuasaan --- mengganti AS mengatur dunia, menjadi superpower baru. Cerdasnya Beruang Merah membaca momentum kedepan. Tak ada kawan dan lawan abadi yang ada hanya kepentingan!
Ini berbeda jika PD meledak di Selat Hormuz, atau di Syria, atau di Iran (masih kawasan Heartland). Rusia justru akan lebih agresif melindungi koalisinya, selain mengamankan kepentingan nasionalnya di Iran, faktor geopolitic pipeline yang dimiliki Syria, juga posisi negeri (geostrategic possition) Bashar al Assad ini merupakan "titik simpul" dari Road Silk (Jalur Sutra), route melegenda sejak abad III yang terbentang mulai perbatasan Cina/Rusia hingga ke Maroko (Afrika Utara) dan merupakan jalur ekonomi dan perdagangan sekaligus jalur militer yang membedah antara Dunia Barat dan Dunia Timur. Inilah skema keramat para adidaya dunia yang mulai terkuak!
Meletusnya PD di Kawasan Heartland justru membuat Rusia dan Cina “bersenyawa” ---meminjam istilah Hendrajit--- sebab muncul common enemy. Pengalaman keduanya atas pemutusan konsesi minyak dengan Irak secara sepihak oleh Bush Jr ketika AS dan sekutu berhasil melumpuhkan Saddam Husein (2003) dulu, membuat Rusia dan Cina harus mengambil sikap jauh-jauh hari.
Sedangkan ancaman lain selain “kebakaran besar” sebagaimana sinyal Cossudovsky dan Sheikh Qassem di atas, adalah lebih daripada itu yakni timbul berbagai efek peristiwa seperti bencana sosial, pangan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan dan lainnya yang dahsyat akibat perang nuklir. Maka elit AS kini tinggal menghitung hari: meletuskan PD di Selat Hormuz atau Laut Cina Selatan, apabila perang dianggap satu-satunya jalan guna memulihan sistem ekonominya yang bangkrut.

Momentum Indonesia
Bagi Indonesia, momentum emas sebagaimana PD II dahulu niscaya terulang kembali dalam PD III nanti. Belajar dari sejarah kemerdekaan tempo doeloe, pendiri-pendiri bangsa ini memanfaatkan Vacum of power bangsa imperialis saat Jepang kalah perang melawan sekutu di Asia Pasifik. Pada PD II, Indonesia mampu merebut jembatan emas KEMERDEKAAN yang diplokamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta. Diharapkan dalam PD III nanti, Indonesia mengulang sukses sebagaimana kiprah para bapak pendiri republik tercinta ini.
Diyakini terdapat vacum of power ketika semua perhatian negara terfokus pada jalannya peperangan. Entah meletus di Hormus atau Laut Cina Selatan, maka Indonesia mutlak harus merebut KEMERDEKAAN II. Ya. Indonesia harus kembali menjadi bangsa merdeka, bersatu dan berdaulat yang sesungguhnya, keluar dari cengkraman imperialis modern bermodus "VOC Gaya Baru" dengan berbagai format dan kemasan yang kini tengah menjarah berbagai sumberdaya (politik, ekonomi, sosial, manusia, alam dsb) di bumi pertiwi, namun tidak disadari oleh mayoritas rakyat itu sendiri.
Kejayaan Indonesia terulang setiap tujuh abad, begitulah ramalan leluhur bergaung hingga kini. Abad VII Zaman Sriwijaya disebut Nusantara I. Abad XIV Era Majapahit dinamai Nusantara II dan kini telah memasuki lorong abad XXI --- putaran ketiga dari siklus alam sesuai “mandat” semesta. Selamat datang di Pelataran Nusantara III: Indonesia Jaya!
Tetapi entah iya entah tidak, entah benar atau cuma mitos belaka, hukum sebuah ramalan adalah sunah, boleh percaya tidak pun syah-syah saja. Namun pada satu sisi, hendaknya para tokoh, pakar dan kaum cinta negeri, tidak perlu larut oleh “mimpi indah” sebuah ramalan, lalu di sisi lain ---setidaknya dari kini--- segenap tumpah darah dan komponen bangsa mulai bergandeng tangan, merapatkan barisan, menyatukan titik-titik perbedaan, menghentikan ego-ego sektoral dan semangat kedaerahan sempit, merumuskan langkah bersama yang akan ditempuh tatkala momentum emas itu tiba. Tangkap peluang! Musuh ada di luar sana kendati “skema”-nya telah tertancap pada Ibu Pertiwi. Jangan buang-buang waktu percuma karena hari telah beranjak senja. Bongkar skema, cabut skema!
Bangkit dan bersatulah bangsaku!

Peralatan Perang Indonesia Dapat Pujian PBB

Indonesia mendapat pujian dari Dewan Keamanan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) terkait dengan peralatan perang yang telah dimiliki oleh Indonesia, namun sebelum kita melangkah kenapa Indonesia mendapat pujian dari Dewan keamanan PBB, baiknya kita lihat dulu sejarah dari keberadaan Dewan keamanan PBB serta tentang sepak terjang bapak bangsa Indonesia Soekarno yang begitu berani menentang dominasi Kapitalis Amerika dan Inggris yang begitu dominan mengatur badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dewan Keamanan Perserikatan bangsa-bangsa adalah badan terkuat di PBB yang tugasnya menjaga perdamaian dan keamanan antar Negara. Disamping itu Dewan keamanan PBB punya kekuatan untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan para anggota dibawah Piagam PBB.

Anggota Dewan Keamanan PBB terdiri dari 15 Negara, namun hanya 5 negara yang menjadi anggota tetap dan mempunyai Hak veto. Dalam sejarahnya Hak Veto dimiliki oleh negara-negara Anggota tetap Dewan keamanan PBB yang saat ini dimiliki oleh Amerika Serikat , Rusia (dulu Uni Soviet), RRC, Inggris dan Perancis.

Pada saat ini opini yang berkembang di media internasional menyebutkan keberadaan lima negara anggota tetap dan Hak Veto harus ditinjau kembali karena perkembangan dunia yang semakin kompleks serta sering dianggap membuat berlarut larutnya masalah internasional yang membawa akibat pada masalah kemanusiaan akibat digunakannya hak ini oleh negara-negara besar yang dianggap membawa kepentingannya sendiri dan juga kelompoknya.

Karena keberadaanya merupakan warisan Perang dunia kedua yang diambil dari negara-negara kuat pemenang perang, banyak suara-suara dari tokoh tokoh internasional agar PBB dirombak atau direformasi agar dapat mengakomodasi perkembangan dunia internasional khususnya negara-negara dunia ketiga. Di antara tokoh tokoh yang menyarankan perlunya reformasi pada PBB khususnya Dewan Keamanan di antaranya adalah Presiden Soekarno pada tahun 1960-an.

Soekarno adalah presiden pertama Indonesia yang terkenal sangat berani, Sejarah Indonesia memang telah mencatat bahwa Indonesia merdeka lepas dari segala bentuk penjajahan tak lain adalah peran Soekarno yang sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Soekarno selain berwibawa, ia juga sangat tegas. beliau tidak pandang bulu terhadap siapapun yang mencoba merendahkan martabat negara Indonesia.

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”

Kalimat diatas adalah ucapan Bung Karno yang tercatat dalam sejarah, Ucapan itu sebagai bukti bahwa Soekarno tidak pernah takut dan tidak pernah pandang bulu terutama terhadap Negara-negara yang akan merugikan Indonesia Raya, Tidak hanya itu Soekarno juga pernah melawan PBB, tepatnya tanggal 20 Januari 1965 Bung Karno menarik bangsa Indonesia dari keanggotaan PBB. Banyak kepala negara didunia yang berpendapat, keputusan Soekarno untuk mencabut Indonesia dari keanggotaan PBB adalah sikap nekat. Namun tekad Soekarno sudah bulat, ia akan lakukan apapun untuk memperjuangkan martabat BangsaIndonesia.

Mengapa Indonesia keluar dari PBB, ada 6 alasan yang tidak terbantahkan mengapa Indonesia keluar dari PBB, berikut alasannya :

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan (sekarang diganti RRC). Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menjunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.

Kelima, Soekarno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Kembali dalam konteks mengapa Indonesia mendapat pujian dari dewan keamanan PBB, peristiwa itu terjadi ketika 15 orang perwakilan dari anggota Dewan Keamanan PBB berkunjung ke Indonesia, Kunjungan ini dilakukan dalam rangka isu yang berkembang bahwa peralatan perang Indonesia adalah yang terbaik didunia.

Melihat adanya isu tersebut membuat Dewan Keamanan PBB khawatir karena diduga peralatan perang terbaik itu akan digunakan untuk tindakan negatif yang akan merugikan beberapa anggota PBB lainnya yang memang sangat ketakutan melihat Indonesia sudah mempunyai peralatan perang terbaik didunia, Negara-negara yang merasa ketakutan tersebut diantaranya Australia, Malaysia dan Singapura.

Setelah tiba di Indonesia, kelima belas perwakilan anggota Dewan Keamanan PBB langsung melihat dimana peralatan perang tersebut berada, bukan hanya peralatan perang kategori berat yang diperiksa namun hal-hal terkecil pun tak luput dari pengawasan Dewan Keamanan PBB.

Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat satu demi satu peralatan perang Indonesia, mulai dari pesawat tempur yang terlihat sangat bersih dan rapi tanpa noda, begitu juga ketika kendaraan lapis baja (Tank) yang juga terlihat bersih terawat, selanjutnya mereka lebih terkagum-kagum melihat senapan dan pisau komando yang juga terlihat sangat bersih dan licin sekali.

Bersih dan rapinya peralatan perang Indonesia ini ternyata menjadi indikator bahwa Indonesia memang tidak punya keinginan untuk melakukan tindakan negatif terhadap Negara lain. Bersihnya peralatan perang ini akibat rutinitas sehari-hari yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia yang rajin membersihkan peralatan perang ini sehabis mereka apel pada pagi hari, harap maklum karena memang kondisi Indonesia relatif jauh dari kegiatan perang, baik didalam negeri maupun diluar negeri, ternyata isu negatif tentang peralatan perang Indonesia ini karena berdasarkan pantauan satelit dari Negara-negara tetangga, seakan-akan tentara Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk melakukan persiapan agresi pada Negara mereka, karena hasil pantauan satelit terlihat setiap pagi selalu tentara Indonesia membersihkan peralatan perangnya, jadi ketakutan itu ternyata tidak beralasan.

Melihat fakta ini akhirnya kelima belas utusan perwakilan Anggota Dewan keamanan PBB malah memuji kalau Peralatan perang Indonesia sangat terawat dengan baik kebersihannya, dan mereka berjanji akan menyampaikannya dalam rapat dewan keamanan PBB agar Negara-negara lain dapat mengadopsi cara membersihkan peralatan perang ala Indonesia ini sehingga sedikit banyak akan mengurangi penggunaan peralatan perang untuk hal-hal yang negatif.

Dampak dari kunjungan Anggota Dewan Keamanan PBB ini memang luar biasa, besoknya seluruh media internasional membuat headline di korannya dengan judul “PERALATAN PERANG INDONESIA TERKENAL BERSIH DAN RAPI SERTA MENDAPAT PUJIAN DARI PBB“

21 Jan 2013

23 Negara Impor Software Edukasi Indonesia

PT Pesona Edukasi sedang giat-giatnya mengekspor software edukasi untuk siswa SD-SMA


Di tengah makin seretnya keran ekspor tekstil Indonesia akibat krisis ekonomi global, perusahaan software lokal malah menyuplai software edukasi ke luar negeri.
PT Pesona Edukasi membuat software bernama PesonaEdu, sebagai alat bantu belajar interaktif untuk siswa SD, SMP, SMA dan SMK, di bidang Matematika dan Fisika.
Kini, perusahan itu malah sedang kebanjiran order. Mereka telah mengekspor produk-produknya  ke 23 negara. Nilai ekspor ke 23 negara itu bisa mencapai USD 1,2 juta (sekitar 14,5 miliar) per tahun.
Saat ini, mereka juga tengah membuka jaringan penjualan barunya ke beberapa negara lain.
“Kami telah menandatangani kerja penunjukan distributor ekslusif untuk negara Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina,” ujar Presiden Direktur Pesona  Edukasi, Hary Sudiyono di sela-sela jumpa pers di Jakarta, Jumat 21 November 2008.
Di pasar ritel, piranti lunak yang hanya dapat dijalankan di komputer berbasis Microsoft Windows itu, dijual dengan harga sekitar Rp 440.000 per tahun langganan.
Walikota Jakarta Pusat Silviana Murni, yang juga hadir pada peluncuran acara, mengatakan bahwa software edukasi bikinan Hary, sebenarnya juga sangat dibutuhkan oleh sekolah-sekolah di dalam negeri.
"Software ini sangat penting untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah untuk membangun kualitas pendidikan menjadi lebih baik," ujarnya antusias.
Namun, secara spesifik, Hari belum berencana untuk memberlakukan potongan harga atau subsidi bagi institusi pendidikan di dalam negri, “Kami telah menyerahkan seluruhnya kepada distributor.”

Wapres Instruksi Mendikbud Kembangkan Kuliah Online

Menurut Wapres, pengajaran online penting untuk standar internasional

Wapres Boediono
Sistem pengajaran online dipandang mampu menjadikan lulusan perguruan tinggi di Indonesia diakui dunia. Wakil Presiden Boediono pun meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan sistem pengajaran online di tingkat perguruan tinggi.

Wakil Presiden Boediono menyampaikan harapan sekaligus instruksinya itu di acara pembukaan konvensi Kampus ke-9 dan Temu Tahunan ke-15 Forum Rektor Indonesia di Gedung Gradhikan Gubernuran Provinsi Jawa Tengah, Jl Pahlawan, Semarang,  Jumat 18 Januari 2013.

"Saya meminta Saudara Menteri untuk menyusun blue print pengembangan sistem pengajaran online perguruan tinggi," kata Boediono.

Menurutnya, selama ini mata kuliah online hanya tersedia dalam Bahasa Inggris, karena itu, blue print mata kuliah online dengan konten Indonesia dipandang sangat penting dan mampu mempermudah penggunanya. "Pengajaran online perguruan tinggi itu buatan Indonesia, dan jika disajikan dalam Bahasa Indonesia dan dengan konten Indonesia namun secara keilmuan tetap harus memenuhi standar internasional," kata Boediono.

Dengan mengambil mata kuliah online, tambah Budiono, mahasiswa bisa mendapatkan kredit yang diakui secara internasional. Hal itu juga diharapkan bisa menutup kelemahan dan kekurangan lembaga pendidikan tinggi.

"Apabila direncanakan dan dipilih dengan baik, semua itu  dapat diperoleh dengan biaya yang terjangkau, baik oleh institusi maupun mahasiswa," katanya.

Mendikbud Siap

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan pihaknya sudah memiliki "infrastruktur" yang siap dikembangkan untuk pengajaran online yakni digital dividend atau tranformasi dari sistem analog ke sistem digital. "Ibaratnya  tanah 100 meter dipakai untuk satu keluarga, dengan membangun tingkat yang tinggi bisa untuk 10 keluarga. Itulah digital dividend," kata M. Nuh.

Ditambahkan, tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangan pengajaran on line. "Kalau jalan rayanya itu kanal, kami ingin memanfaatkan yang digital dividend itu. Mobilnya itu teknologi. Untuk konten sudah ada sebagian," kata Mendiknas.

Pendapat lain datang dari Wakil Rektor bidang kemahasiswaan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Idiannoor Mahyudin. Ia menyoroti kemungkinan kendala dalam mengembangkan pengajaran on line adalah letak daerah yang mempengaruhi sinyal internet. "Sebenarnya itu sangat efisien jika bicara di perkotaan. Untuk di daerah, masih lemah, itu yang perlu diperhatikan," katanya.

21-1-1976: Pesawat Supersonik Komersil Pertama

Selama 27 tahun Concorde melanglang buana dan akhirnya dipensiunkan

Pesawat jet supersonik Concorde milik British Airways
Pada 37 tahun yang lalu, dua pesawat jet supersonik Concorde terbang untuk kali pertama melayani rute komersial. Dua pesawat Concorde tersebut masing-masing lepas landas dari Bandara Heathrow, London, dan Bandara Orly, Paris.

Penerbangan dari London akan membawa penumpang ke Bahrain melalui Teluk Persia. Sedangkan pesawat dari Paris akan terbang ke Rio de Janeiro melalui Senegal.

Laman The History Channel mengungkapkan, dengan kecepatan rata-rata, pesawat inovatif Concorde mampu terbang 1.350 mil per jam, melebihi perintang bunyi (sound barrier), dan mengurangi lebih dari setengah waktu perjalanan udara. Pesawat Concorde adalah pencapaian dari 12 tahun upaya Inggris-Prancis untuk menciptakan pesawat komersial supersonik pertama di dunia.

Namun, Concorde bukan pencapaian luar biasa. Pada akhirnya, penerbangan Concorde dibatasi hanya untuk penerbangan transatlantik dari London dan Paris ke New York.

Pada Juli 2000, pesawat Concorde milik maskapai Air France jatuh 60 detik setelah lepas landas dari Paris dan menewaskan 109 penumpang dan empat orang di darat. Kecelakaan disebabkan salah satu ban pesawat meledak dan membuat tank bahan bakar bocor, sehingga menyebabkan kebakaran yang memicu kegagalan mesin.

Kecelakaan fatal itu, yang merupakan insiden pertama dalam sejarah Concorde,  menunjukkan penurunan kualitas pada pesawat tersebut. Pada 24 Oktober 2003, Concorde menjalani penerbangan komersial reguler terakhir sebelum akhirnya dipensiunkan.

16 Jan 2013

Armada TNI AL akan Dikerahkan Jauh di Luar Teritorial


Armada kapal perang TNI AL
Armada kapal perang TNI AL (2005)
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengatakan keamanan maritim terus diperketat mengingat estimasi ancaman semakin meningkat, bahkan kawasan Asia Pasifik saat ini sedang menjadi fokus perhatian dunia, khususnya terkait perlindungan jalur perdagangan dan komunikasi laut.

Sebagai antisipasinya, TNI AL akan melakukan pengerahan kekuatan militer hingga jauh di luar teritorial guna mengamankan jalur perekonomian dan armadanya, ujar KSAL saat membuka Seminar Maritime Security 2012 di Jakarta, Selasa 13 november 2012.

Seminar Maritime Security 2012 bertemakan "Membangun Kesadaran Keamanan Maritim Berlandaskan Kepentingan Nasional Guna Menciptakan Keamanan Nasional yang Terintegrasi dalam rangka Menyukseskan Pembangunan Nasional".

Indonesian National Shipowners Association (INSA) mendata, perompakan kapal di kawasan Asia meningkat pada tahun 2010 menjadi 164 kasus, sementara 2009 terdapat 102 kasus. Peningkatan kasus perompakan di Asia Tenggara menjadi yang tertinggi dengan jumlah 72 perompakan pada 2009, sementara pada 2010 meningkat menjadi 119 perompakan. Sementara di Asia Selatan (India dan sekitar) pada 2009 sebanyak 29 kasus, namun pada 2010 meningkat menjadi 44 kasus.
Sebagian besar wilayah maritim Asia Tenggara merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. Merupakan modal dasar bagi Indonesia untuk memposisikan diri sebagai pengendali berbagai aktivitas kemaritiman di kawasan Asia Tenggara
Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto mengatakan peristiwa pembajakan tidak hanya terjadi di kawasan Asia, melainkan di Teluk Eden, Samudera Hindia. "Peristiwa pembajakan lebih banyak lagi. Total ada 406 kasus pembajakan yang terjadi pada 2009, sementara pada 2010, meningkat menjadi 445 kasus," ujarnya.

INSA juga mencatat Selat Malaka dan perairan Riau merupakan perairan paling rawan perompakan di Asia Tenggara. Di dua kawasan itu juga penyelundupan kerap terjadi. Tingkat kerawanannya bahkan hampir menyamai perompakan di Teluk Eden, Teluk Somalia, Nigeria, dan Tanzania di benua Afrika.

Sebagian besar wilayah maritim Asia Tenggara merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. "Ini merupakan modal dasar bagi Indonesia untuk memposisikan diri sebagai pengendali berbagai aktivitas kemaritiman di kawasan ini," katanya.

Indonesia juga akan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara tetangga untuk menanggulangi persoalan keamanan maritim di masa mendatang. "Kami akan merumuskan kerja sama strategis seluruh komponen maritim dalam menghadapi identifikasi tantangan keamanan maritim di masa depan," jelas Soeparno.

LAPAN Bangun Bandar Antariksa di Morotai


Roket Zenit-3SL membawa satelit Intelsat 21
Roket Zenit-3SL Sea Launch siap meluncur membawa satelit Intelsat 21 (Kredit Foto: Sea Launch)

Indonesia patut berbangga hati dengan prestasi pengembangan roket dan satelit oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dalam beberapa tahun terakhir. Untuk terus mengembangkan teknologi antariksanya, kini LAPAN merintis pembangunan bandar antariksa (spaceport) nasional untuk keperluan peluncuran Roket Pengorbit Satelit (RPS) dan juga satelit lain.
LAPAN telah memilih pulau Morotai sebagai lokasi pembangunan bandar antariksa, mengeliminasi tiga kemungkinan lokasi lainnya yaitu Biak, Nias dan Enggano. Pulau yang terletak di Provinsi Maluku Utara ini berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik dan Laut Halmahera di sebelah utara, timur, dan barat. Ini mengingat potensi dan kualifikasi pulau tersebut yang paling memungkinkan untuk pembangunan bandar antariksa.
Menurut kepala LAPAN, Bambang S. Tedjasukmana pada Selasa, 27 November 2012, pembangunan (persiapan) akan dilakukan segera pada tahun 2013 dengan target selesai pada 2025. "Untuk meluncurkan RPS dan satelit sendiri, Indonesia memerlukan bandar antariksa yang profesional," kata Bambang.

Selain untuk meluncurkan RPS dan satelit, bandar antariksa yang rencananya dibangun dengan perkiraan biaya awal Rp 20 miliar tersebut, juga akan dimanfaatkan sebagai lokasi uji terbang pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV) -tak berawak-.

Mengenai pilihan yang jatuh pada Morotai, Bambang mengungkapkan pembangunan bandar antariksa harus memenuhi beberapa syarat, yaitu sedapat mungkin lokasi bandar antariksa ditempatkan dekat dengan garis khatulistiwa, tidak ada konflik terhadap tanah yang akan dijadikan lokasi, menghadap ke laut bebas, jauh dari pemukiman penduduk, kondisi iklim dan cuaca yang mendukung untuk peluncuran RPS, dan bebas dari gempa.
Wilayah Morotai berdekatan dengan Samudera Pasifik. Peluncuran roket bisa dilakukan secara langsung tanpa melewati negara tetangga
"Kita sudah kaji Enggano, sudah periksa infrastrukturnya. Kelebihannya di Morotai punya 7 landasan yang panjangnya mencapai 3 km bekas Perang Dunia II. Selain itu kita lihat di Enggano ada potensi untuk tsunami. Kalau di Biak, kami baru masuk, sudah banyak masalah sosial," ujar Bambang.
Bambang juga mengatakan, wilayah Morotai berdekatan dengan Samudera Pasifik. Peluncuran roket bisa dilakukan secara langsung tanpa melewati negara tetangga. Hal ini memudahkan program peluncuran yang akan dilakukan.

Dari sisi sosiologis, tidak ada tanah adat di Morotai sehingga pembebasan tanah untuk kepentingan pembangunan bandar antariksa akan lebih mudah. Jumlah penduduk di Morotai juga hanya 60.000 jiwa, belum terlalu padat. Bandar antariksa di Morotai, jika dibandingkan dengan bandar antariksa lain di dunia memiliki kelebihan. Bandar antariksa ini terletak di wilayah ekuator. Secara ekonomis, peluncuran di ekuator lebih murah.
Butuh Waktu yang Panjang

Bambang menjelaskan untuk mewujudkan bandar antariksa nasional masih perlu waktu yang panjang. Menurut Bambang, dalam roadmap LAPAN, bandar antariksa di Pulau Marotai akan selesai dibangun pada 2025.

"Kami merintis dulu. Untuk langkah pertama kita siapkan launcher-nya (peluncur), landasan peluncuran, pemindahan alat-alat meteorologi ke sana, juga mulai menempatkan para insinyur kita di sana," paparnya. Jika tahapan tersebut sudah selesai, menurutnya baru akan melangkah ke pembangunan bandar antariksa.

Sebagai langkah awal, LAPAN akan mencoba meluncurkan roket RX-550 pada tahun 2013. LAPAN juga akan merencanakan tata ruang, pembangunan launcher, pemindahan alat meteorologi serta pembangkit listrik.

Sebelumnya, LAPAN telah mengembangkan fasilitas peluncuran satelit di Pameungpeuk, Jawa Barat. Stasiun tersebut selama ini digunakan untuk meluncurkan berbagai roket eksperimen hasil penelitian dan pengembangan LAPAN. Lokasi tersebut tidak bisa digunakan sebagai tempat pembangunan bandar antariksa karena terlalu padat. Selain itu, di Pameungpeuk itu sudah padat penduduk dan muncul berbagai penginapan untuk objek wisata, juga banyak kapal berlalu lalang di sana. Untuk meluncurkan RPS, dibutuhkan bandar antariksa yang luas.
Tanjung Sangowo, yang berlokasi antara Desa Sangowo dan Desa Mira, Morotarai Timur, sangat potensial sebagai bandar antariksa
Saat ini, ada 6 lokasi di Morotai yang akan dikaji sebagai lokasi bandar antariksa. Keenamnya adalah Tanjung Gurango, Desa Gorua, Kecamatan Marotai Utara. Alternatif kedua Desa Bido, Kecamatan Morotarai Utara, ketiga Desa Mira Kecamatan Morotarai Timur.

Seluruh lokasi ini merupakan daerah perbukitan, pinggir pantai dan menghadap lautan bebas, dekat dengan sungai, berjarak 1-2 KM dari pemukiman penduduk.

Alternatif selanjutnya Pulau Tabailenge, berada di depan kota Berebere dengan jarak kurang lebih 2,5 KM, lokasi lain antara Desa Sangowo dengan Desa Daeo, Morotarai Timur dan alternatif terakhir Tanjung Sangowo, yang berlokasi antara Desa Sangowo dan Desa Mira, Morotarai Timur. Wilayah terakhir ini merupakan wilayah yang sangat potensial sebagai bandar antariksa.


Tawarkan Kerjasama ke Korea Selatan

LAPAN juga mengajukan tawaran kerjasama ke Korea Selatan, dimana negara ini tidak memiliki bandar antariksa sendiri. Posisi Indonesia yang berada di ekuator memberi keuntungan tersendiri, sedangkan Korea Selatan tidak bisa meluncurkan satelit mereka karena akan melewati wilayah Jepang.

Adapun kerjasama yang dimaksud adalah pembangunan infrastruktur bandar antariksa, maupun yang lainnya. Meski membuka peluang kerjasama, Bambang memastikan bahwa kepemilikan bandar antariksa sepenuhnya tetap menjadi milik dan dikelola Indonesia, tidak jatuh ke tangan asing.

Pihak negara lain yang bekerjasama, hanya sebatas membawa fasilitas integrasi untuk peluncuran satelit di bandar antariksa. Pengelolaan tetap berada di tangan Indonesia dalam hal ini LAPAN.
Saat ini, negara yang telah memiliki bandar antariksa antara lain Australia, Amerika Serikat, Jepang, India dan China
Ia menggambarkan bahwa pihak yang nantinya menjalin kerjasama dalam pembangunan bandar antariksa, akan mendapat fasilitas tertentu. Ada perjanjian dan kewajiban tertentu dnegan prinsip saling menguntungkan. Tapi tidak dijelaskan secara detail mengenai fasilitas yang dimaksud.

Bambang mengatakan, adanya bandar antariksa di Indonesia akan membawa beberapa keuntungan. "Kita bisa luncurkan satelit sendiri. Fasilitasnya kita pakai sendiri. Orang yang kerja adalah orang Indonesia. Ini akan membuka kesempatan bagi orang Indonesia untuk lebih pintar," jelas Bambang. 

Saat ini, negara yang telah memiliki bandar antariksa antara lain Australia (2 buah), Amerika Serikat (2 buah), Jepang (1 buah), India (1 buah) dan beberapa di China.

Modernisasi Kekuatan TNI Fokus Pada Kekuatan Pokok Minimum


Batalyon Raider TNI AD

Kebijakan pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI yang dituangkan dalam perencanaan strategis TNI masih terfokus pada mewujudkan Kekuatan Pokok Minimum Pertahanan (Minimum Essential Force - MEF), dengan titik berat pada modernisasi dan melengkapi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang mengutamakan produksi dalam negeri, guna terwujudnya kekuatan Pertahanan Negara yang cukup dan lebih memadai. Demikian amanat Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., yang dibacakan Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Among Margono, S.E., selaku Inspektur Upacara pada Upacara Bendera 17-an, di lapangan Upacara Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin , 17 Desember 2012.
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan, makna dan hakekat dari kekuatan “cukup”, adalah kekuatan yang mampu mengemban tugas-tugas operasional yang sedang dan akan diemban di masa depan serta setiap saat dapat dikembangkan bila diperlukan, tidak berlebihan di tengah keterbatasan anggaran dan tidak ketinggalan di tengah kemajuan tehnologi militer, serta memancarkan deterrence effect atau daya tangkal yang tinggi, sehingga disegani oleh kawan atau lawan.

Namun demikian tegas Panglima TNI, aspek pembinaan, pemeliharaan, dan perawatan terhadap apa yang telah dimiliki, baik personel, alat perlengkapan (Alkap), alat utama (Alut) maupun Alutsista harus terus dilaksanakan dan ditingkatkan sebagai landasan pacu yang kokoh sebelum adanya realisasi program 2013. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai usia pakai yang optimal dan menghindari, serta menekan terjadinya ”resiko”, baik berupa incident (kejadian bahaya) atau accident (kecelakaan), hingga pada tingkat yang serendah-rendahnya.

Dalam upacara yang berlangsung khidmat tersebut, Panglima TNI memberikan penekanan kepada seluruh Komandan Satuan dan seluruh Prajurit serta Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI untuk:

Pertama, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai wujud amaliah nyata dari Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, sekaligus landasan moral dan etika dalam pelaksanaan tugas. 
Kedua, meningkatkan wawasan serta ilmu pengetahuan dan tehnologi guna membangun kapasitas diri dan keterampilan keprajuritan dalam rangka membangun kapabilitas TNI dalam rangka mendukung pembangunan kekuatan pokok minimum TNI yang solid dan profesional.
Ketiga, senantiasa memelihara dan meningkatkan kewaspadaan, agar tidak terjebak dalam pengaruh negatif dan tidak bersikap reaktif buta yang merugikan diri maupun institusi atau organisasi TNI.
Keempat, meningkatkan disiplin pribadi sebagai basis terwujudnya disiplin satuan dan disiplin masyarakat. 
Kelima, menjaga dan memegang teguh komitmen netralitas politik TNI, sebagai salah satu bukti kongkrit dari hasil reformasi internal TNI. 
Keenam, meningkatkan terus soliditas dan solidaritas satuan, serta disiplin, dedikasi dan loyalitas prajurit. 
Ketujuh, mengurangi dan menyederhanakan kegiatan yang bersifat seremonial dan kunjungan kerja, guna mencegah terjadinya pemborosan dalam rangka efisiensi anggaran di jajaran TNI.
Selesai upacara, dilanjutkan dengan ceramah agama Islam bertempat di GOR A. Yani Mabes TNI dengan penceramah H. Muhaimin Luthfie (Kakanwil Kemenag DKI Jakarta).

Alutsista Baru Sebagai Tantangan TNI AU

Helikopter Cougar EC725
Helikopter Cougar EC725
Dalam Rencana Strategis (Renstra) pembangunan TNI Angkatan Udara tahun 2010-2014, kedepan TNI AU secara signifikan akan menambah alat utama sistem senjata (alutsista). Sekitar 102 pesawat baru yang terdiri atas F-16, T-50, Sukhoi, Super tucano, CN-295, Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500 maupun Radar akan segera memperkuat TNI AU.

Tambahan alutsista ini tentunya akan menumbuhkan rasa kebanggaan, namun sekaligus juga sebagai tantangan dalam upaya menyusun kekuatan TNI AU maupun pemeliharaannya. Diharapkan dengan pelaksanaan Renstra 5 tahunan, pertumbuhan dan perkembangan TNI AU ke depan secara bertahap mampu mewujudkan impian tersebut.

Untuk itu, agar dapat melaksanakan tugas sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, maka kebijakan yang ditempuh TNI AU yakni Minimum Essensial Force atau Kekuatan Pokok Minimum merupakan jawaban yang tepat untuk diaplikasikan.

Demikian yang disampaikan Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI I.B. Putu Dunia, melalui Komandan Pangkalan Udara Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Abdul Muis di hadapan tak kurang dari 1.200 personil Lanud Adisutjipto, saat apel khusus menyambut Tahun Baru 2013 yang digelar di lapangan Jupiter, Rabu, 2 Januari 2013.

Marsekal Pertama TNI Abdul Muis juga berpesan pada seluruh personil agar selalu meningkatkan kinerja dan profesionalisme dalam menjalankan setiap penugasan. Seluruh Prajurit dan PNS TNI hendaknya bersikap pro-aktif dan tetap pada tugas yang diemban dengan senantiasa terus meningkatkan kualitas diri dan kualitas hasil kerja mulai dari hal-hal yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang juga.

Di kesempatan yang sama, Komandan Pangkalan TNI AU Marsekal Pertama TNI Abdul Muis  juga menyampaikan rasa terima kasih atas terlaksananya tugas-tugas di tahun 2012 dengan baik dan berharap adanya peningkatan kinerja di tahun 2013.

3 Kapal Selam dari Korea Awali Target 10 Kapal Selam


KRI Nanggala 402 saat uji coba pelayaran di Korea Selatan
KRI Nanggala-402 saat uji coba pelayaran di Korea Selatan (Foto: Kaskus)
Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dilakukan secara serius dan berkesinambungan guna menunjang kekuatan sistem pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, pemerintah selalu berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan TNI, khususnya TNI Angkatan Laut dalam menjaga perairan Indonesia.  

Seperti yang dinyatakan Kementerian Pertahanan pada Agustus lalu, bahwa pihaknya telah membeli sebanyak tiga kapal selam Chang bogo asal Korea Selatan. Pembelian telah resmi dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui mekanisme transfer of technology (TOT) atau sistem alih teknologi.
Mengenai hal tersebut, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin berharap Indonesia dapat membuat kapal selam sendiri setelah teknisi dari PT PAL belajar ke Korsel untuk membuat kapal selam. Wamenhan mengatakan ini itu saat berkunjung ke PT PAL, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 28 Desember 2012.

Tujuan Wamenhan ke PT PAL,  dalam rangka meninjau kesiapan PT PAL untuk memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista), di antaranya kapal selam, kapal tunda, kapal cepat rudal, kapal perusak kawal rudal dan tug boat.

"Saya melihat disini area persiapan untuk alih teknologi kapal selam. Dua kapal selam diproduksi bersama Korea Selatan. Satu unit kapal selam akan diproduksi di PT PAL di area khusus pembuatan kapal selam," ujar Sjafrie Sjamsoeddin, di sela-sela kunjungannya.

Dalam kesempatan itu, Sjafrie juga meminta PT PAL betul-betul serius dalam mengelola anggaran untuk kebutuhan modernisasi peralatan militer, khususnya untuk membangun infrastruktur kapal perang.

"PT PAL sudah bangkit dan secara khusus mendapat penyertaan modal. Tapi mereka harus menguatkan divisi kapal perang yang terkenal dengan teknologi tinggi," ujarnya.

Sebelumnya Korea Selatan juga pernah menerima kontrak untuk "perawatan berat" dua kapal selam Indonesia, yaitu KRI Cakra/401 dan KRI Nanggala/402 tepatnya di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. Kedua kapal selam ini masing-masing di "opname" di Korea Selatan selama 2 tahun, yaitu KRI Cakra/401 pada 2004 hingga 2006 dan adiknya KRI Nanggala/402 pada 2010 hingga awal 2012 lalu. -Motto KRI Cakra dan KRI Nanggala : "Tabah Sampai Akhir." Merinding dah...-

Penambahan 10 Kapal Selam
Wamenhan menegaskan, untuk rencana strategis jangka panjang, Indonesia akan membeli 10 kapal selam. Di tahap awal, Indonesia akan memiliki tiga kapal selam hasil kerjasama pembelian dari Korea Selatan. Dua dibuat di sana, kata dia, satu kapal selam dibuat murni anak negeri di PT PAL mulai 2016.
Namun, pihaknya paham bahwa untuk mewujudkan kekuatan pokok minimum (MEF), dibutuhkan dana yang besar dan harus dilakukan dengan perencanaan matang. Meski begitu, jika melihat cetak biru pemenuhan alutsista hingga 2024, maka hal itu hampir dipastikan terwujud.

Sjafrie menjelaskan, pada awal pemerintahan SBY, anggaran belanja alutsista per tahun masih Rp 500 miliar. Sekarang, dana yang digelontorkan pemerintah mencapai Rp 8 triliun. Selain untuk memasuk kebutuhan senjata operasional prajurit, langkah membeli produk senjata lokal juga untuk membantu memulihkan kejayaan industri pertahanan dalam negeri.

Pangkalan Kapal Selam di Palu Segera Beroperasi

Pangkalan kapal selam TNI AL di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, yang saat ini tengah dalam proses penyelesaian pembangunan, kemungkinan akan segera dioperasikan. Kapal selam TNI AL yang selama ini bermarkas di Koarmatim kemungkinan sudah bisa singgah di Teluk Palu pada awal 2013.

Dari sisi pertahanan negara, keberadaan pangkalan tersebut sangat strategis untuk pengamanan wilayah NKRI terutama di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II Selat Makassar sampai ke perbatasan dengan negara tetangga Malaysia di Laut Sulawesi.

Pangkalan kapal selam diTeluk Palu tersebut berada di lahan seluas 13 ha dan nantinya akan diperkuat dengan pasukan pertahanan pangkalan dengan jumlah personel sebanyak satu peleton atau sekitar 24 orang.

Salah satu alasan pemilihan Teluk Palu karena teluk ini cukup strategis di nusantara. Teluk Palu memiliki lebar 10 kilometer dengan lingkar garis pantai sepanjang 68 kilometer. Kedalaman Teluk Palu mencapai 400 meter dan dinilai sangat strategis. "Perlindungan alam" terhadap arus laut yang ekstrim juga dinilai sangat memadai dan menguntungkan untuk dijadikan pangkalan kapal selam.

Sebagai gambaran, pada Perang Dunia II, Angkatan Laut Kerajaan Inggris pernah mengandalkan pangkalan kapal selam Scapa Flow di Kepulauan Orkney, Skotlandia. Walau sempat ditembus flotila* kapal selam U-boat Jerman namun eksistensi Scapa Flow tetap dipertahankan.
*Flotila adalah formasi dari beberapa kapal perang/selam kecil yang mungkin merupakan bagian dari armada/formasi kapal perang yang lebih besar